HAKIKAT DAN KONSEP DASAR PRAGMATIK

Nama: Melinda Handayani

NPM: 2410631080150

Kelas: 4B

Mata Kuliah: Pragmatik

Dosen Pengampu: Dr. Ade Kusnan Afandi, M.P.d.

Pertemuan ke-2


Memahami Pragmatik: Ketika Makna Tidak Selalu Sama dengan Kata

Pernah nggak, kamu lagi ngobrol lalu seseorang berkata,
“Duh, panas banget ya…”
Tiba-tiba kamu menyalakan kipas.
Padahal dia tidak pernah menyuruh.
Kenapa kita bisa langsung paham maksudnya?

Karena dalam komunikasi, manusia tidak hanya memahami apa yang dikatakan, tetapi juga apa yang dimaksud. Cara memahami maksud di balik ujaran inilah yang dipelajari dalam ilmu pragmatik.


 Apa Itu Pragmatik?

Pragmatik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna bahasa berdasarkan konteks penggunaannya. Levinson (1983) menjelaskan bahwa untuk memahami tuturan, seseorang harus memahami konteks yang melatarbelakanginya. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Yule (1996) bahwa pragmatik mengkaji makna yang dimaksud penutur dan ditafsirkan oleh pendengar.

Artinya, makna bahasa tidak hanya berasal dari kata-kata, tetapi juga dari:

  1. situasi
  2. hubungan sosial
  3. tujuan komunikasi

Tarigan (2015) menyebut pragmatik sebagai kajian hubungan bahasa dengan konteks yang tergramatisasi dalam struktur bahasa.
Bahasa Itu Tindakan Sosial

Dalam pragmatik, berbicara dianggap sebagai tindakan sosial. Saat seseorang berbicara, ia sebenarnya sedang melakukan sesuatu: meminta, melarang, menolak, atau menyindir. Yule (1996) menyebutkan bahwa pragmatik meliputi:

  1. Maksud penutur
  2. Makna kontekstual
  3. Makna tersirat
  4. Hubungan sosial dalam ujaran

Karena itu, kesalahpahaman biasanya terjadi bukan karena salah arti kata, tetapi salah memahami konteks.

 Konsep-Konsep Penting dalam Pragmatik

1. Deiksis

Kata yang Bergantung Situasi Ada kata yang artinya berubah tergantung siapa yang berbicara dan kapan diucapkan. Kata seperti ini disebut deiksis (Muhyidin, 2019). 

Contoh:
"Saya akan ke sana besok.”
Makna kata saya, sana, dan besok hanya bisa dipahami jika kita mengetahui konteksnya.

Menurut Setiawan (2011), deiksis meliputi:

  1. persona (saya, kamu, mereka)
  2. tempat (di sini, di sana)
  3. waktu (sekarang, tadi, besok)

2. Implikatur 
Maksud yang Tidak Diucapkan
Manusia sering berbicara tidak langsung. Grice (1975) menjelaskan bahwa dalam percakapan terdapat perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang dimaksud.
Contoh:
Ibu berkata:
“Piringnya masih banyak.”
Pendengar memahami maksudnya: diminta mencuci piring.

Makna tambahan ini disebut implikatur.

3. Praanggapan 
Asumsi Sebelum Tuturan
Kadang sebuah kalimat membawa informasi yang dianggap sudah diketahui sebelumnya. Hal ini disebut praanggapan (Karim dkk., 2019).
Contoh:“Rina berhenti merokok.”

Kalimat tersebut mengasumsikan bahwa Rina pernah merokok.


4. Tindak Tutur
Berbicara Berarti Bertindak
Austin (1962) menjelaskan bahwa ketika orang berbicara, ia melakukan tindakan.
Ada tiga jenis tindak tutur:
  1. Lokusi → mengucapkan kalimat
  2. Ilokusi → maksud kalimat
  3. Perlokusi → efek pada pendengar
Contoh:
“Airnya habis.” 

Bisa bermaksud meminta seseorang mengisi air.

5. Prinsip Kerja Sama
Agar percakapan berjalan lancar, manusia tanpa sadar mengikuti aturan komunikasi. Grice merumuskannya dalam empat maksim percakapan, yang dijelaskan kembali oleh Rahardi (2019):

Kuantitas → informasi secukupnya
Kualitas → jujur
Relevansi → sesuai topik
Cara → jelas

Pelanggaran aturan ini sering menghasilkan sindiran atau humor.

 6. Kesantunan Berbahasa
Dalam komunikasi, orang cenderung tidak berbicara langsung demi menjaga hubungan sosial. Pranowo (2022) menyebut hal ini sebagai strategi menjaga muka (face).
Contoh:
 “Tutup pintu.”
 “Tolong pintunya ditutup ya.”

Maknanya sama, tetapi tingkat kesopanannya berbeda.


Mengapa Pragmatik Penting?

Pemahaman pragmatik membantu kita:

  1. Memahami maksud orang lain
  2. Menghindari salah paham
  3. Menyesuaikan bahasa dengan situasi
  4. Menjaga hubungan sosial 
Tanpa pragmatik, kita hanya memahami arti kata, bukan arti sebenarnya.


Kesimpulan

Pragmatik menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan bagian dari interaksi sosial. Makna ujaran ditentukan oleh konteks, hubungan penutur dan pendengar, serta tujuan komunikasi.Melalui konsep deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, prinsip kerja sama, dan kesantunan berbahasa, manusia dapat berkomunikasi secara efektif dan harmonis.


Referensi

Austin, J. L. (1962). How to Do Things with Words

Grice, H. P. (1975). Logic and Conversation

Levinson, S. C. (1983). Pragmatics

Yule, G. (1996). Pragmatics

Tarigan, H. G. (2015). Pengajaran Pragmatik

Rahardi, R. K. (2019). Pragmatik

Karim dkk. (2019). Presuposisi

Pranowo (2022). Kesantunan Berbahasa

Muhyidin (2019); Setiawan (2011)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI BALIK KATA: ANATOMI SITUASI TUTUR DAN PRAGMATIK DALAM KOMUNIKASI MANUSIA

Galacita: Jejak Literasi Bulanan di SMAN 1 Cikampek